Death Bell 2

Death Bell
Cerita Death Bell 2: Bloody Camp kurang lebih seperti ini. Seorang siswa sekolah menengah atas yang sekaligus atlit renang Jeong Tae-yeon (Yoon Seung-ah) ditemukan tewas di kolam, yang diperkirakan karena bunuh diri. 2 Tahun kemudian setelah kejadian ini, Park Eun-su (Hwang Jung Eum) seorang wanita yang melamar di sekolah menengah atas ini dimana saudara tirinya Tae-yeon , Lee Se-Hui (park Ji-Yeon) yang dihantui oleh bayangan mengerikan dan selalu dibullying oleh temannya sendiri Eom Ji-yun (Choi Ah-jin). Sang guru baru, Eun-su menemukan kesulitan untuk mendapatkan perhatian dan rasa hormat di dalam kelas tapi usaha Eun-su selalu didukung oleh guru senior disana, Cha (Kim Su-ro).

Di sekolah ini, setiap musim panas tiba beberapa siswa tingkat akhir yang mempunyai nilai tertinggi akan dipilih untuk mengikuti sebuah “kamp studi” , dimana siswa terpilih ini akan dididik dan belajar selama musim panas untuk ujian masuk Universitas Pilihan mereka. Lee Se-Hui pun masuk dalam siswa terpilih ini. Ternyata “Kamp Studi” yang seharusnya membuat mereka tambah pintar berubah menjadi “bloody Camp”. Mereka tidak tahu bahwa ada seorang psikopat yang mengancam jiwa mereka.

Meski cerita di film keduanya ini tidak ada hubungan sama sekali dengan cerita pertama tapi garis merah film pertama masih dipegang sama sutradara Yoo Sun-Dong yaitu siswa-siswa yang terjebak dan terancam mati oleh sang psikopat. Tapi entah kenapa setelah menonton Death Bell 2, feel yang saya dapatkan di film pertamanya tidak dapat saya temui di film ini. Di film pertama diceritakan para siswa disini harus menebak sekaligus menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh sang pembunuh, jika tidak bisa atau terlambat menjawab sesuai waktu yang ditentukan sang pembunuh maka salah satu siswa akan mati. Itulah sebenarnya nyawa dari kisah Death Bell dan itu sama sekali tidak ada dalam sekuelnya ini. Tidak ada lagi kejar-kejaran waktu, tidak ada lagi ketegangan yang berarti disini, tidak ada lagi sosok Psikopat layaknya Jigsaw. Psikopat disini hanya berniat membunuh tanpa mempermainkan para siswanya sebelum menjelang kematiannya.

Jujur saya katakan kesadisan di film keduanya naik setingkat dari film pertama. Seorang siswa yang dibunuh dengan motor berpisau di kiri kanan rodanya, guru yang mati terpanggan oven, ataupun siswi yang meninggal menyanyat tubuhnya karena phobia berlebihan yang dimilikinya. Meski begitu tetap saja kenikmatan di film pertama tidak saya dapatkan. Terkesan nanggung, itulah yang muncul dari film ini. Dari segi cerita, penjabaran masing-masing tokohnya dan twistnya yang tidak sebagus pendahulunya semuanya serba nanggung. Yoo Sun-dong tidak meletakkan kembali bumbu racikan horror yang sudah dibuat Chang sebelumnya.

Yang fatal menurut saya dari sekuelnya ini adalah terlalu banyaknya drama yang dimasukkan Yoo Sun-Dong ke dalam filmnya. Banyaknya drama yang ada justru mengganggu daya tarik film ini. Meskipun banyak kekurangannya, Death Bell 2 tidak bisa dikatakan sebagai film horror yang buruk. Cukup menghibur walapun tidak begitu menyengat layaknya film pertamanya. Dari kekurangan Death Bell 2, mungkin yang paling diingat dari orang-orang yang sudah menonton film ini adalah adegan siswa terjebak di koridor sekolah dan dibantai, dibunuh, berulang kali diserang dengan sepeda motor yang dilengkapi pisau. Adegan ini adalah adegan terkeren dari film ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: